Pemalang – Nahdlatul Ulama (NU) memasuki usia 100 tahun Masehi atau satu abad sejak didirikan. Bagi organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini, usia satu abad bukan hanya momen perayaan, tetapi juga titik kebangkitan untuk memperkuat peran nyata dalam kehidupan beragama, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Hal ini diungkapkan Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Pemalang, KH. Abu Joharuddin Bahry, yang akrab disapa Gus Bahry, saat ditemui di kantor PCNU Pemalang, Ahad, (8/2/2026).

“Di usia satu abad, NU harus tampil sebagai teladan dalam menjaga tradisi, memperkuat persatuan, dan menjawab tantangan zaman. Momentum ini bukan sekadar perayaan historis, tetapi juga penguatan peran kami bagi masyarakat,” kata Gus Bahry.

Menurut Gus Bahry, NU memiliki posisi strategis dalam memberikan arahan dan pengaruh kepada pemangku kebijakan, baik di ranah keagamaan maupun pemerintahan daerah. Dengan basis massa yang kuat, legitimasi keilmuan para ulama, dan pengalaman panjang dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, NU mampu menjadi rujukan moral, sosial, sekaligus mitra strategis pemerintah.

“NU bukan hanya organisasi keagamaan. NU juga menjadi mitra pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang berorientasi pada kemaslahatan umat dan stabilitas sosial,” tambahnya.

Gus Bahry menekankan, tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini semakin kompleks. Perkembangan teknologi, arus globalisasi, perubahan sosial budaya, dan dinamika ekonomi-politik membawa dampak signifikan. Di satu sisi, kemajuan membuka peluang baru, namun di sisi lain muncul persoalan seperti degradasi nilai moral, kesenjangan sosial, hingga konflik identitas.

“Mengajak, seluruh pengurus NU, lembaga, dan badan otonom harus menyusun strategi kerja yang jelas serta menghadirkan inovasi program. Kita harus adaptif terhadap teknologi dan perubahan sosial agar tetap relevan,” ujarnya.

Selain itu, Gus Bahry menekankan pentingnya inovasi dan adaptasi terhadap perkembangan digital. “Sikap proaktif ini menuntut keterbukaan, kesiapan belajar hal baru, dan kemampuan memanfaatkan teknologi secara bijak. Dengan begitu, gagasan dan solusi baru yang bermanfaat bagi masyarakat dapat tercipta,” katanya.

Memasuki abad kedua, NU harus memberikan peran nyata yang lebih luas, tidak hanya merayakan sejarah, tetapi juga memberikan kontribusi konkret bagi kemaslahatan warga Nahdliyin dan masyarakat secara umum. Momentum satu abad diharapkan menjadi pijakan untuk memperkuat tradisi, meningkatkan solidaritas sosial, dan menghadirkan program-program berdampak langsung dalam kehidupan beragama, kebangsaan, dan kemanusiaan.

 

Penulis : Irfan Fatoni

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini