Di tengah riuhnya ruang publik yang dipenuhi pertengkaran politik, polarisasi identitas, dan banjir informasi yang sering kali miskin kebijaksanaan, bangsa ini sesungguhnya sedang merindukan lebih banyak sosok seperti Mahbub Djunaidi. Ia bukan sekadar wartawan, kolumnis, budayawan, atau politisi Nahdlatul Ulama (NU). Lebih dari itu, Mahbub adalah intelektual yang menjadikan tulisan sebagai jalan merawat nalar, humor sebagai bahasa kritik, dan kebangsaan sebagai titik temu berbagai perbedaan.
Julukan si jenius jenaka yang melekat pada dirinya bukanlah sekadar pengakuan atas kecerdasannya merangkai kata. Julukan itu lahir dari kemampuannya mengubah persoalan-persoalan besar menjadi renungan yang mudah dipahami masyarakat. Di tangan Mahbub, kritik tidak hadir dalam bentuk amarah, melainkan senyum yang menyentil kesadaran. Pembaca dibuat tertawa, tetapi setelah itu dipaksa berpikir.
Barangkali di situlah letak keistimewaan Mahbub Djunaidi. Ia memahami bahwa tugas seorang intelektual bukan sekadar memenangkan perdebatan, melainkan menjaga agar akal sehat tetap hidup di tengah hiruk-pikuk kehidupan politik.
Warisan pemikiran Mahbub yang paling terasa hingga kini adalah cara pandangnya mengenai relasi Islam dan kebangsaan. Pada masa ketika perdebatan mengenai dasar negara berlangsung sangat keras, ia memilih jalan yang sejak lama ditempuh para ulama NU. Islam tidak diposisikan sebagai lawan bagi nasionalisme, melainkan menjadi sumber nilai yang memperkuat kehidupan berbangsa.
Pandangan tersebut merupakan kelanjutan dari tradisi pemikiran para pendiri NU, seperti KH Abdul Wahab Chasbullah dan KH Wahid Hasyim, yang melihat Pancasila konsensus kebangsaan yang memungkinkan seluruh anak bangsa hidup bersama tanpa kehilangan identitas keagamaannya. Dalam perspektif ini, keislaman dan keindonesiaan bukanlah dua kutub yang saling meniadakan, tetapi dua identitas yang saling menguatkan.
Sayangnya, ruang publik hari ini justru sering memperhadapkan keduanya. Agama dipakai sebagai alat mobilisasi politik, sementara nasionalisme kerap dipersempit menjadi slogan yang kehilangan substansi. Di sinilah pemikiran Mahbub menemukan relevansinya. Ia mengingatkan bahwa agama seharusnya menghadirkan kemaslahatan, bukan mempertajam polarisasi.
Selain gagasan tentang kebangsaan, Mahbub juga meninggalkan pelajaran mengenai etika mengkritik kekuasaan. Ia hidup pada masa ketika kebebasan berpendapat tidak semudah sekarang. Namun, keterbatasan itu tidak membuatnya memilih diam. Ia justru menemukan jalan lain melalui satire dan humor.
Humor bagi Mahbub bukan pelarian dari kenyataan. Humor adalah strategi intelektual. Sindiran yang dibungkus kelucuan sering kali lebih efektif daripada kemarahan yang meledak-ledak. Ketika menyinggung pejabat yang sibuk mengejar seremoni tanpa memahami arah kebijakan, misalnya, ia memilih metafora yang membuat pembaca tersenyum sekaligus menyadari absurditas kekuasaan.
Tradisi kritik seperti ini terasa semakin langka. Hari ini, kritik sering berubah menjadi caci maki, sedangkan humor lebih banyak dipakai untuk mempermalukan lawan. Mahbub menunjukkan bahwa kecerdasan justru tampak ketika seseorang mampu mengoreksi tanpa kehilangan kesantunan dan tetap menghormati martabat manusia.
Cara pandang Mahbub terhadap NU juga menarik untuk direnungkan. Baginya, kekuatan terbesar NU bukan terletak pada kedekatannya dengan kekuasaan, melainkan pada kemampuannya menjadi penyangga moral masyarakat. Politik boleh berubah mengikuti dinamika zaman, tetapi NU tidak boleh kehilangan perannya sebagai penjaga nilai, pelindung kaum lemah, dan penguat masyarakat sipil.
Pandangan ini sejalan dengan karakter NU sebagai organisasi keagamaan yang tumbuh dari rahim masyarakat. Kekuatan NU bukan hanya terletak pada struktur organisasinya, melainkan pada jejaring kultural yang menghubungkan pesantren, masjid, majelis taklim, dan komunitas akar rumput. Karena itu, ketika NU terlalu larut dalam logika kekuasaan, sesungguhnya ia sedang menjauh dari sumber kekuatannya sendiri.
Mahbub memahami betul bahwa demokrasi tidak hanya disangga oleh pemilu yang berlangsung lima tahunan. Demokrasi membutuhkan masyarakat sipil yang kuat, tradisi musyawarah yang hidup, dan organisasi sosial-keagamaan yang mampu menjadi penyeimbang kekuasaan. Dalam kerangka itulah NU memiliki tanggung jawab historis yang jauh melampaui kepentingan politik sesaat.
Pandangan serupa tampak dalam sikapnya terhadap dunia jurnalistik. Bagi Mahbub, wartawan bukan sekadar penyampai informasi. Jurnalisme adalah ikhtiar mencerdaskan publik. Fakta memang harus disampaikan apa adanya, tetapi fakta tanpa penjelasan sering kali gagal membantu masyarakat memahami persoalan.
Karena itu, kolom baginya bukan ruang untuk memamerkan kepandaian penulis, melainkan ruang pendidikan politik bagi masyarakat. Seorang kolumnis harus mampu menghadirkan perspektif, menjelaskan konteks, dan mengajak pembaca berpikir lebih dalam daripada sekadar mengikuti arus opini yang sedang ramai.
Di era media digital, ketika kecepatan sering mengalahkan kedalaman, pesan ini terasa semakin penting. Kita memiliki limpahan informasi, tetapi tidak selalu memiliki kebijaksanaan untuk memaknainya.
Di atas semua itu, Mahbub Djunaidi mewariskan sesuatu yang mungkin paling langka pada masa sekarang, yakni keberanian intelektual. Ia tidak pernah menempatkan loyalitas organisasi di atas kebenaran. Ketika melihat gejala pragmatisme, termasuk di lingkungan NU sendiri, ia memilih mengingatkan. Kritiknya tidak lahir dari kebencian, melainkan dari rasa memiliki.
Sikap seperti inilah yang sesungguhnya menjadi tradisi intelektual NU. Mencintai organisasi bukan berarti membenarkan semua tindakannya, tetapi menjaga agar organisasi tetap berjalan di atas rel nilai-nilai Islam, kemanusiaan, dan kebangsaan.
Karena itu, mengenang Mahbub Djunaidi semestinya tidak berhenti pada nostalgia terhadap sosok penulis yang jenaka. Yang jauh lebih penting adalah mewarisi cara berpikirnya.
Di tengah zaman yang dipenuhi kebisingan, kita membutuhkan lebih banyak keberanian untuk berpikir jernih, lebih banyak kerendahan hati untuk berdialog, dan lebih banyak humor yang mampu merawat akal sehat.
Mahbub telah menunjukkan bahwa pena dapat menjadi alat perjuangan yang lebih tajam daripada teriakan. Sebab tulisan yang lahir dari keluasan ilmu,
kejernihan nurani, dan kehalusan adab akan selalu menemukan pembacanya, bahkan ketika penulisnya telah lama tiada.
Penulis : Irfan Fatoni
Editor : Adi Saputra









